Terungkap! Langkah Berani Indonesia & China Perkuat Sektor Kesehatan: Dari Lawan TBC Hingga Gebrak AI
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin baru-baru ini menyerukan peningkatan kolaborasi kesehatan antara Indonesia dan China.
Ajakan ini secara khusus menyoroti beberapa area krusial.
Fokusnya adalah pada pencegahan tuberkulosis (TB) yang efektif.
Pengembangan obat-obatan tradisional juga menjadi prioritas.
Sektor bioteknologi kesehatan turut masuk dalam daftar kerja sama.
Selain itu, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital dalam layanan kesehatan juga didorong.
“China dan Indonesia memiliki banyak kesamaan prioritas di bidang kesehatan,” ungkap Menkes Budi Gunadi.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Beijing, Minggu.
“Khususnya dalam transformasi kualitas layanan kesehatan serta promosi pencegahan penyakit,” tambahnya.
Menkes Budi menegaskan bahwa kedua negara dapat saling belajar.
Hal ini bertujuan untuk memajukan kerja sama yang saling menguntungkan.
Pernyataan tersebut disampaikan Budi dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Komisi Kesehatan Nasional China Lei Haichao.
Pertemuan penting itu berlangsung pada Jumat (27/3) di Beijing.
“Indonesia dapat banyak belajar dari keberhasilan China,” kata Menkes.
Ia merujuk pada keberhasilan China dalam menurunkan status prevalensi TB.
Negeri Tirai Bambu itu berhasil beralih dari tingkat sedang ke tingkat rendah.
Menkes juga mengungkapkan keinginan kuat Indonesia untuk memperkuat transformasi digital sistem kesehatan.
Fokus utamanya adalah pada penanganan data klinis pasien.
Ia juga meminta agar Indonesia dapat memanfaatkan keunggulan China di bidang AI dan teknologi.
Termasuk dalam penggunaan teknologi “brain to computer interface” (BCI).
Teknologi ini penting untuk pencegahan dan pemulihan stroke.
BCI juga dapat dimanfaatkan untuk gangguan kesehatan otak lainnya.
Lebih lanjut, Menkes menyampaikan apresiasinya atas dukungan China.
Dukungan tersebut terkait pelaksanaan program “fellowship” bagi dokter-dokter Indonesia.
Program ini memungkinkan para dokter menimba ilmu di berbagai rumah sakit di China.
Dalam setahun terakhir, sebanyak 113 dokter spesialis asal Indonesia telah mengikuti program tersebut.
Kedua menteri juga saling bertukar pandangan.
Mereka membahas tantangan dalam peningkatan layanan kesehatan masyarakat.
Transformasi tenaga kesehatan juga menjadi topik pembahasan.
Selain itu, Menkes Budi mengundang Menteri Lei.
Ia ingin Menteri Lei menghadiri “joint committee meeting” antar kementerian kesehatan RI dan China di Indonesia.
Tujuannya agar kerja sama yang terbangun dapat semakin efektif.
Hal ini penting dalam menghadapi tantangan-tantangan baru di bidang kesehatan.
Kunjungan Menkes ke Beijing bukan hanya untuk pertemuan bilateral.
Ia juga memenuhi undangan dari Universitas Tsinghua dan Chinese Academy of Engineering.
Menkes Budi bertindak sebagai pembicara kunci dalam “The 2026 Zhongguancun Forum – World Digital Health Forum”.
Dalam pidatonya, Menkes menyampaikan pandangan visioner.
Ia menyebut AI tidak akan menggantikan dokter.
Namun, dokter yang tidak memanfaatkan AI akan tertinggal.
Dalam kunjungan kerjanya kali ini, Menkes didampingi oleh beberapa pejabat.
Mereka adalah Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun.
Wakil Duta Besar RI di Beijing Irene juga turut mendampingi.
Menkes juga bertemu dengan sejumlah pengusaha China.
Para pengusaha ini bergerak di bidang peralatan kesehatan, farmasi, AI, hingga robotik.
Dalam pertemuan itu, perusahaan farmasi Indonesia Iofarma menandatangani kesepakatan penting.
Kesepakatan lanjutan ini terjalin dengan perusahaan farmasi China “Sinovac”.
Isinya terkait kerja sama pengembangan dan produksi vaksin.
Di sela-sela kunjungan, Menkes juga menyempatkan diri bertemu para peserta “fellowship”.
Mereka adalah para dokter yang sedang belajar di berbagai rumah sakit di China.
Indonesia dan China diketahui memiliki beragam kesepakatan kerja sama di bidang kesehatan.
Pada 25 Mei 2025, saat pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Li Qiang di Jakarta, kerja sama penting ditandatangani.
Kerja sama itu melibatkan Kementerian Kesehatan RI dan lembaga-lembaga kesehatan China.
Fokusnya pada pengobatan tradisional Tiongkok dan penanggulangan tuberkulosis.
Kolaborasi ini tidak hanya terbatas antar pemerintah.
Melainkan juga mencakup kerja sama antarrumah sakit.
Bentuknya juga berupa pertukaran tenaga kesehatan.
FAQ: Tanya Jawab Seputar Kerja Sama Kesehatan Indonesia-China
Berikut adalah beberapa pertanyaan umum mengenai kolaborasi kesehatan antara Indonesia dan China.
Apa tujuan utama dari kerja sama kesehatan Indonesia-China ini?
Tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan promosi pencegahan penyakit di kedua negara.
Fokusnya pada area seperti pencegahan TB, pemanfaatan obat tradisional, bioteknologi, serta penerapan AI dan teknologi digital.
Bidang kesehatan apa saja yang menjadi prioritas dalam kerja sama ini?
Prioritas utama meliputi pencegahan tuberkulosis, pengembangan dan pemanfaatan obat-obatan tradisional, inovasi bioteknologi.
Selain itu, integrasi kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital, termasuk teknologi Brain-to-Computer Interface (BCI), juga menjadi fokus.
Apakah ada program pertukaran tenaga kesehatan dalam kerja sama ini?
Ya, terdapat program “fellowship” bagi dokter-dokter Indonesia untuk belajar di berbagai rumah sakit di China.
Dalam setahun terakhir, tercatat 113 dokter spesialis Indonesia telah mengikuti program ini.
Ada juga pertukaran tenaga kesehatan secara umum.
Bagaimana peran teknologi AI dalam kolaborasi kesehatan ini?
Indonesia berkeinginan kuat untuk memanfaatkan keunggulan China di bidang AI dan teknologi untuk transformasi digital sistem kesehatan.
Ini termasuk penanganan data klinis pasien dan penggunaan BCI untuk pencegahan serta pemulihan stroke dan gangguan otak lainnya.
Menkes Budi juga menekankan bahwa dokter yang tidak memanfaatkan AI akan tertinggal.
Apakah sudah ada kesepakatan kerja sama konkret yang terjalin?
Ya, banyak kesepakatan telah terjalin.
Salah satunya adalah penandatanganan kesepakatan antara perusahaan farmasi Indonesia Iofarma dan Sinovac dari China.
Kesepakatan ini terkait pengembangan dan produksi vaksin.
Selain itu, pada 25 Mei 2025, telah ditandatangani kerja sama antara Kemenkes RI dan lembaga kesehatan China mengenai pengobatan tradisional Tiongkok serta penanggulangan tuberkulosis.
berita ini di sadur dari https://jatim.antaranews.com/berita/1051566/menkes-ajak-china-kerja-sama-pencegahan-tuberkulosis.